Menentukan harga jasa pembuatan software sering jadi dilema, baik untuk freelancer, tim kecil, maupun software house yang baru mulai. Kalau terlalu murah, kamu bisa kelelahan dan ujung-ujungnya rugi waktu dan tenaga. Kalau terlalu mahal, takut klien kabur. Nah, artikel ini akan membahas cara menentukan harga jasa pembuatan software dengan bahasa yang sederhana dan langkah yang bisa langsung kamu praktekkan.
Tujuannya simpel:
- Kamu tahu dasar perhitungan harga,
- Kamu paham faktor yang memengaruhi harga,
- Kamu bisa menyusun penawaran yang wajar, menguntungkan, dan profesional.
1. Mindset Dasar dalam Menentukan Harga Jasa Pembuatan Software
Sebelum masuk ke rumus, penting untuk punya mindset yang benar dulu. Harga jasa pembuatan software bukan cuma soal “murah atau mahal”, tapi kombinasi dari:
- Biaya – berapa banyak pengeluaran yang harus kamu tutup.
- Nilai – seberapa besar manfaat software itu untuk klien.
- Pasar – kisaran harga yang berlaku di lapangan.
- Posisi kamu – pemula, menengah, atau sudah expert.
Bayangkan begini:
- Software yang membantu perusahaan menghemat Rp50 juta per bulan tentu wajar kalau jasanya dihargai Rp20–50 juta sekali proyek.
- Tapi kalau hanya software sederhana untuk laporan internal skala kecil, harganya tentu berbeda.
Jadi, menentukan harga jasa pembuatan software bukan hanya tentang “butuh uang berapa”, tapi juga “nilai apa yang kamu berikan”.
2. Komponen Biaya yang Wajib Dihitung
Sebelum menentukan angka, kamu harus tahu dulu apa saja biaya di balik layanan kamu. Minimal, ada beberapa komponen ini:
2.1. Biaya hidup dan kebutuhan pribadi
Kalau kamu full-time sebagai programmer freelance atau pemilik software house kecil, pendapatan dari proyek adalah sumber hidupmu. Jadi, tentukan:
- Kebutuhan hidup per bulan (makan, tempat tinggal, transport, dll)
- Target tabungan/investasi
- Kebutuhan keluarga (kalau sudah berkeluarga)
Misal:
Kebutuhan hidup layak per bulan = Rp8.000.000
2.2. Biaya operasional kerja
Ini sering dilupakan padahal penting:
- Internet bulanan
- Listrik
- Laptop/PC (penyusutan alat kerja)
- Software berbayar (IDE, hosting, domain, tool testing, dll)
- Co-working space / kantor (kalau ada)
Misal:
Biaya operasional per bulan = Rp2.000.000
2.3. Pajak dan cadangan lain
Idealnya kamu mulai menghitung:
- Pajak (kalau sudah kena kewajiban)
- Dana darurat usaha
- Cadangan upgrade device
Misal:
Cadangan pajak + lain-lain = Rp2.000.000
Total kebutuhan usaha + pribadi per bulan:
Rp8.000.000 + Rp2.000.000 + Rp2.000.000 = Rp12.000.000
Angka ini adalah minimum pendapatan per bulan yang sebaiknya kamu kejar.
3. Hitung Tarif Dasar: Per Jam atau Per Hari
Salah satu cara praktis menentukan harga jasa pembuatan software adalah dengan menghitung dulu tarif per jam atau per hari.
3.1. Estimasi jam kerja billable
Dalam sebulan, kamu memang kerja misalnya 8 jam per hari × 22 hari = 176 jam.
Tapi tidak semua jam bisa ditagihkan ke klien (billable), karena ada waktu untuk:
- Chat / meeting
- Riset
- Belajar teknologi baru
- Bikin proposal
- Ngurus administrasi
Rata-rata yang benar-benar bisa ditagih biasanya hanya sekitar 60–100 jam per bulan.
Misal kamu target:
80 jam billable per bulan
3.2. Rumus tarif per jam
Tarif per jam dasar bisa dihitung sederhana:
Tarif per jam = (Total kebutuhan per bulan) ÷ (Jam billable per bulan)
Dengan contoh di atas:
Rp12.000.000 ÷ 80 jam = Rp150.000 per jam
Ini tarif dasar, belum termasuk:
- Margin risiko
- Kompleksitas proyek
- Pajak final (kalau mau lebih rapi)
Kamu boleh bulatkan misalnya jadi Rp150.000–200.000 per jam tergantung kepercayaan diri dan kualitas layananmu.
4. Menentukan Harga Per Proyek dari Estimasi Jam
Mayoritas klien lebih suka harga per proyek, bukan per jam, karena mereka ingin kepastian total biaya. Nah, tarif per jam tadi bisa kamu jadikan pondasi.
4.1. Langkah sederhana menentukan harga per proyek
- Breakdown fitur
Tulis semua fitur utama: login, dashboard, laporan, integrasi payment, API, dll. - Estimasi waktu tiap fitur
Misal:- Setup project & autentikasi: 10 jam
- Dashboard & CRUD data utama: 20 jam
- Laporan PDF/Excel: 8 jam
- Integrasi payment gateway: 12 jam
- Testing & bug fixing: 10 jam
Total: 60 jam
- Tambahkan buffer waktu
Misal buffer 20–30% untuk hal tak terduga.
60 jam × 30% = 18 jam → Total = 78 jam (bulatkan 80 jam) - Kalikan dengan tarif per jam
80 jam × Rp150.000 = Rp12.000.000 - Tambahkan margin risiko & nilai
Misal kamu naikkan 10–20% jika proyek bernilai tinggi atau deadline mepet.
Rp12.000.000 + 20% = Rp14.400.000
Jadi, kamu bisa tawarkan paket proyek di kisaran Rp12–15 juta, tergantung negosiasi dan nilai bisnis untuk klien.
5. Faktor yang Mempengaruhi Harga Jasa Pembuatan Software
Selain hitungan matematis, ada faktor lain yang membuat harga bisa naik atau turun.
5.1. Kompleksitas fitur
- Aplikasi kasir sederhana berbeda dengan sistem ERP multi-cabang.
- Semakin kompleks integrasi (API pihak ketiga, multi-role user, analitik, dll), semakin tinggi harga.
5.2. Teknologi yang digunakan
- Tech stack populer dan mudah (misalnya Laravel + MySQL) bisa lebih cepat dikerjakan.
- Kalau klien minta arsitektur rumit (microservices, high availability, streaming data), wajar kalau harga lebih tinggi.
5.3. Deadline dan urgensi
- Proyek “butuh cepat jadi 2 minggu” wajar kalau dikenai biaya ekspres.
- Kamu berkorban lembur, berarti ada kompensasi.
5.4. Revisi dan perubahan scope
Ini salah satu sumber “rugi waktu” kalau tidak diatur sejak awal.
- Tetapkan batas revisi dalam proposal (misalnya: 2x revisi besar, selebihnya ada biaya tambahan).
- Jelaskan bahwa penambahan fitur di luar kesepakatan awal = Change Request dengan biaya tersendiri.
5.5. Maintenance dan support
Tentukan sejak awal:
- Apakah harga sudah termasuk maintenance 1–3 bulan setelah go-live?
- Apakah ada biaya tahunan untuk support, update minor, dan monitoring?
Kamu bisa pisahkan:
- Harga pembuatan software
- Harga maintenance bulanan/tahunan
6. Model Penentuan Harga: Pilih yang Paling Cocok
Saat menentukan harga jasa pembuatan software, biasanya ada beberapa model yang bisa kamu pakai:
6.1. Fixed price (per proyek)
Cocok untuk:
- Scope relatif jelas
- Fitur sudah terdefinisi
- Klien ingin kepastian angka
Kelebihan:
- Klien nyaman karena tahu total biaya di awal.
- Kamu bisa optimalkan waktu: makin efisien, makin besar margin.
Kekurangan:
- Risiko di kamu kalau estimasi waktu meleset jauh.
6.2. Time & materials (per jam/hari)
Cocok untuk:
- Proyek riset
- Scope masih kabur dan bisa berubah
- Klien fleksibel dan paham teknis
Kelebihan:
- Lebih adil untuk kedua pihak saat banyak perubahan.
- Tidak terlalu terikat scope awal.
Kekurangan:
- Beberapa klien tidak nyaman karena takut biaya “membengkak”.
6.3. Value-based pricing
Ini lebih advanced:
Kamu menentukan harga berdasarkan nilai bisnis yang didapat klien.
Contoh:
- Software yang bisa menghemat Rp100 juta per tahun.
- Wajar kalau kamu pasang harga Rp30–50 juta karena tetap menguntungkan klien.
Cara ini butuh:
- Pemahaman bisnis klien
- Kepercayaan diri dan reputasi yang cukup
7. Cara Menjelaskan Harga ke Klien Agar Tidak Tampak Asal Tembak
Sering kali developer sudah menghitung matang, tapi di mata klien harga terasa “asal sebut”. Supaya terlihat profesional, kamu bisa:
- Berikan breakdown sederhana
Misalnya:- Analisis & desain sistem
- Pengembangan modul
- Testing
- Deployment & training
- Maintenance sekian bulan
- Tunjukkan estimasi waktu
“Total perkiraan 80 jam kerja, dengan tarif efektif sekitar Rp150.000 per jam.” - Berikan beberapa paket
Misalnya:- Paket Basic (fitur inti saja)
- Paket Standard (fitur inti + laporan)
- Paket Premium (fitur lengkap + maintenance 6 bulan)
Dengan begitu, klien merasa:
- Punya pilihan
- Mengerti alasan di balik harga
- Lebih mudah menyesuaikan dengan budget
8. Kesalahan Umum dalam Menentukan Harga Jasa Pembuatan Software
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
8.1. Banting harga hanya karena saingan
Akhirnya:
- Capek
- Nggak sempat belajar atau upgrade skill
- Sulit berkembang karena margin terlalu tipis
Ingat, yang kamu jual bukan hanya “koding”, tapi solusi + tanggung jawab.
8.2. Tidak memperhitungkan revisi dan perubahan scope
Awalnya proyek kecil, lama-lama jadi mirip ERP tapi harga masih harga “aplikasi sederhana”.
Solusi: selalu tulis detail batas revisi dan aturan penambahan fitur di awal.
8.3. Tidak punya kontrak atau minimal MoU
Kontrak sederhana sekalipun sangat membantu:
- Menghindari salah paham
- Menjelaskan hak dan kewajiban
- Menjadi pegangan saat ada dispute
8.4. Menunda pembicaraan soal maintenance dan hosting
Akibatnya:
- Klien mengira semuanya “sekali bayar selamanya”
- Kamu keteteran tiap ada request kecil yang sebenarnya sudah lewat masa garansi
Lebih baik dari awal jelaskan:
- Masa garansi bug (mis: 1–3 bulan)
- Biaya hosting (kalau kamu yang urus)
- Biaya maintenance tahunan (opsional)
9. Menentukan Harga Bukan Sekali Setel, Tapi Proses Bertahap
Perlu diingat, menentukan harga jasa pembuatan software adalah proses yang berkembang:
- Di awal karier, kamu mungkin menetapkan harga lebih rendah untuk membangun portofolio.
- Seiring bertambahnya pengalaman, testimoni, dan kualitas hasil, harga wajar kalau naik.
- Evaluasi harga secara berkala setiap 6–12 bulan.
Catatan penting:
- Jangan bandingkan harga kamu hanya dengan “tarif teman”.
- Bandingkan dengan nilai yang kamu berikan, kualitas layanan, dan cara kerja profesional yang kamu tawarkan.
Penutup
Menentukan harga jasa pembuatan software bukan sekadar menebak angka yang terdengar enak. Ada hitungannya, ada faktornya, dan ada strateginya. Dengan:
- Menghitung kebutuhan dasar per bulan,
- Menentukan tarif per jam,
- Mengkonversi ke harga per proyek berdasarkan estimasi waktu dan buffer,
- Menyesuaikan dengan kompleksitas, nilai bisnis, dan risiko,
kamu bisa menyusun harga yang:
- Tidak merugikan diri sendiri,
- Masih rasional di mata klien,
- Terlihat profesional dan bisa dipertanggungjawabkan.
Kalau kamu konsisten memakai pola ini, lama-lama kamu akan punya “feeling harga” yang lebih tajam, dan proses menentukan harga jasa pembuatan software tidak lagi terasa menegangkan, tetapi jadi bagian normal dari pekerjaan profesionalmu sebagai pembuat software.